Prospek Menjanjikan, Milenial Tasikmalaya Diajak Kembangkan Pertanian

0 Comments

Indonesia terkenal sebagai negara agraris, dimana mata pencaharian sebagai petani banyak mendominasi. Namun seiring waktu, prospek pekerjaan ini kurang diminati oleh para Milenial Tasikmalaya. Padahal jika dikulik kembali, keutungan yang bisa didapatkan tidak kalah menggirukan. Melihat kondisi tersebut, H. Murjani selaku Anggota DPRD Kota Tasikmalaya mengajak generasi baru untuk mengembangkan bisnis dari sektor pertanian.

Usaha Mengajak Generasi Milenial Bertani

Sudah bukan menjadi rahasia bahwa kini sudah banyak lapangan dan sawah yang telah berubah wujud menjadi sebuah bangunan megah nan mewah. Mungkin pada awalnya hanya satu atau dua lahan saja, namun seiring berjalannya waktu kita semakin disadarkan dengan menipisnya lahan dan minat masyarakat untuk mengembangkan bisnis pertanian. Padahal lahan yang sudah dibangun tersebut, kemungkinan bisa dimanfaatkan untuk pertanian.

Melihat adanya pergeseran minat pada generasi Milenial, tampaknya berhasil menarik perhatian H. Murjani. Tidak ingin diam saja, beliau akhirnya mengajak para Milenial mengembangkan pertanian yang dilakukan bersama dengan Gapoktan Talagasari, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Bukan sekedar ajakan semata, karena beliau juga menyadari mereka juga membutuhkan arahan tepat agar tertarik pada bidang tersebut.

Usaha ini terus digemparkan, karena beliau menyadari jika peluang usaha dari sektor bertani tidak kalah menggiurkan layaknya jenis bisnis lainnya. Setidaknya ada 10 komunitas yang ada di Tasikmalaya yang harus mendatangkan dari luar daerah setiap tahunnya, sehingga demand dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan supplynya. Inilah mengapa beliau tidak hentinya mengajak para Milenial Tasikmalaya untuk bergabung.

Sedangkan dari sudut pandang milenial, teknologi terlihat lebih menarik dan canggih sehingga mereka tidak boleh ketinggalan jika ada berubahan baru. Kondisi ini cukup wajar,  pasalnya mereka memang lahir dimana teknologi mulai berkembang. Hidup bersama dengan teknologi, membuat mereka lebih akrab menyentuh barang canggih dibandingkan menyentuh peralatan bertani.

Berbeda dari generasi sebelumnya yang memang sudah sangat akrab dengan perkebunan dan bertani setiap harinya. Sehingga aktifitas menanam sayuran hingga memanennya sudah bisa dikatakan aktifitas menyenangkan yang bisa dilakukan. Perbedaan generasi inilah yang membuat generasi sebelumnya harus memutar otak agar milenial mengetahui betapa menjalani bisnis di sektor pertanian tidak kalah keren dilakukan.

Buah dari kegelisahan tersebut, terbesitlah ide dimana generasi Milenial Tasikmalaya bisa menggabungkan antara teknologi dan pertanian menjadi satu kesatuan. Maksudnya, cara penggarapan lahannya dilakukan dengan cara lebih modern dan mudah berkat teknologi. Diharapakan penggabungan kedua unsur tersebut, berhasil menarik minat milenial untuk terus mengembangkan potensi alam yang dimiliki tanah air.

Hal yang seringkali disalahpahami oleh generasi baru, yaitu pertanian erat kaitannya dengan sawah maupun lahan berlumpur. Padahal sektor pertanian juga cukup luas dan tidak selalu berkaitan dengan persawahan penuh lumpur yang membuat pakaian dan tubuh kotor. Namun mereka dapat mencoba bertani sayuran dengan sistem hidroponik sebagai solusi tepat. Tanpa perlu ke lahan persawahan, sebab aktifitas bertani ini bisa diterapkan di hunian pribadi.

Hidroponik dianggap sebagai cara bertani modern yang tengah digandrungi oleh berbagai kalangan. Panen bisa dilakukan dengan cepat dengan target pemasaran yang menjanjikan, dianggap sebagai salah satu alasan mengapa sistem pertanian ini banyak digunakan. Ditambah lagi dengan berkurangnya lahan, tampaknya cara penanaman tanaman modern ini bisa menjadi alternatif terbaik.

Tidak perlu lahan untuk bisa dilakukan, karena sistem ini hanya memerlukan beberapa space rumah yang tidak digunakan. Bahan yang digunakan pun sederhana dan mudah ditemukan di sekitar kita, bahkan barang bekas pun bisa dimanfaatkan kembali sebagai media tanamnya. Dengan pengolahan tepat, dijamin bisnis ini bisa menjadi pemasukan yang cukup menggiurkan. Inilah alasan Murjani terus mengajak generasi Milenial Tasikmalaya untuk menyukainya.

Mengajak Generasi Milenial untuk Mengembangkan Pertanian

Tampaknya usaha mengajak Milenial bertani perlahan mulai terlihat hasilnya. Pasalnya Murjani telah mengembangkan sistem hidroponik ini bersama dengan generasi baru di kotanya. Usaha ini pun terus mengalami peningkatan signifikan, sehingga ada kesempatan untuk mengembangkannya di masa depan. Rencananya hasil tani tersebut akan dipasarkan di pasar modern dengan prioritas sayuran hasil lokal.

Bukan sembarang sayuran lokal, namun semua sayuran tersebut dipanen dari hasil teknik penanaman hidroponik maupun Horeka. Tampaknya rencana tersebut sudah dipikirkan dengan matang, karena beliau telah menjadwalkan diskusi dengan beberapa pihak dalam waktu dekat ini. Beberapa pihak yang akan diajak berdiskusi seperti PHRI, restaurant, hingga hotel yang nantinya akan menjadi target sasaran market terbaik.

Termasuk sebagai bisnis menjanjikan setiap tahun, adalah alasan kuat lain mengapa Murjani begitu ingin Milenial Tasikmalaya melirik bisnis sektor pertanian. Bahkan di tengah pandemi global akibat virus COVID 19 yang tak kunjung reda ini, sektor pertanian masih dibutuhkan. Dengan kata lain, sektor pertanian dapat mengatasi krisis ekonomi yang masih belum diketahui akan berakhir ini. Bahkan sektor pertanian pun tetap berjalan saat terjadi moneter pada tahun 1998 lalu.

Seiring berjalannya waktu, generasi baru inilah yang harusnya melanjutkan pertanian dari generasi sebelumnya. Hal inilah yang menjadi alasan kuat lainnya, mengapa Murjani tidak pernah lelah mengajak generasi Milenial untuk melirik bisnis yang tidak pernah mati tersebut. Jika digarap dengan sungguh sungguh dan penuh tekat, bukan tidak mungkin nantinya dapat mendatangkan kesuksesan dengan kondisi ekonomi stabil atau bahkan cenderung meningkat.

Dilihat dari semua keunggulan yang didapatkan, bisa ditarik kesimpulan bahwa pertani berpotensi untuk terus dikembangkan di setiap kondisi dan bisa melewati pergantian jaman sekalipun. Bahkan dalam kondisi seperti sekarang yang mengharuskan manusia dapat beradaptasi agar dapat bertahan, para petani modern tetap menjalankan tugasnya untuk menghasilkan sayuran segar untuk dikonsumsi para konsumennya.

Keputusan bulat mengajak generasi Milenial Tasikmalaya untuk bertani, berkat dirinya mendapatkan aspirasi dari para Gapoktan. Menurut yang dikatakan Gapoktan, hasil pertanian akan terus dibutuhkan dalam kehidupan. Dengan kata lain, hasil tani adalah harga mati yang tidak akan pernah menyebabkan para petani merugi. Selalu ada jalan untuk bertahan, dimana pihaknya terus memikirkan solusi agar petani tidak kesulitan memasarkan hasil taninya.

Iklim dan jenis tanah yang dimiliki oleh Indonesia, dianggap sangat cocok sebagai potensi mengembangkan bisnis di bidang pertanian. Walaupun demikian, generasi baru lebih tertarik mengembangkan bisnis di sektor lainnya. Namun tidak perlu khawatir, karena saat ini sudah ada gabungan dari pertanian dan teknologi yang melahirkan cara baru untuk bertani. Benar, cara ini ampuh membuat generasi Milenial tertarik mengembangkannya.