Mengintip Kisah Ali bin Abi Thalib Sebagai Pemimpin Islam Terakhir

0 Comments

Ali bin Abi Thalib menjadi salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi pemimpin terakhir setelah Rasulullah wafat. Dalam perjuangannya menjadi khulafaur rasyidin, Ali merupakan khalifah keempat atau bisa dikatakan yang paling terakhir. Seperti apa kisah Ali bin Abi Thalib dalam menegakkan nilai nilai Islam? Simak penjelasannya berikut ini!

Perjalanan Hidup dan Kisah Singkat Mengenai Ali bin Abi Thalib

1. Hidup yang Cukup Sederhana

Ali merupakan sosok yang begitu hangat dan juga patut dicontoh dalam kehidupan sehari hari. Dalam menjalani kehidupannya, ia menerapkan hidup yang sederhana. Makanan yang biasanya dimakan Ali cukup dengan lauk pauk yang mudah didapatkan, seperti roti kering yang disantap bersamaan dengan cuka maupun minyak.

Sementara itu untuk baju yang dikenakan Ali ini juga termasuk pakaian kasar untuk menutupi tubuh. Yang terpenting, bajunya bisa melindungi dari cuaca panas dan terpaan hawa dingin (dikutip dari karya Sayyid Ahmad Asy-Syalaini). Bahkan untuk rumahnya sendiri juga tidak terlihat alas tidur maupun bantal untuk berbaring dengan leluasa.

2. Menunjukkan Kecerdasan yang Menonjol

Ali bin Abi Thalib sudah mulai memeluk Islam sejak usianya masih sangat belia. Bisa dibilang Ali menjadi orang pertama yang masuk Islam dari sekian banyak orang di sekitar Rasulullah. Pada saat dirinya masih muda, Ali sudah menunjukkan bagaimana pola pikirnya yang begitu kritis dan pintar untuk usianya tersebut.

Ali kecil juga terkenal dengan kesederhanaan, kerendahan hati, ketenangan dan wawasan yang luas. Semua itu didapatkan karena kecerdasannya yang bersumber dari Quran, sehingga membuatnya menempati posisi istimewa di antara para sahabat Nabi yang lainnya. Kedekatan Ali ini menjadikannya sebagai anggota keluarga Rasulullah SAW karena menikahi Fatimah.

3. Berperan Saat Nabi Hijrah ke Madinah

Ketika orang orang kafir Mekah berencana untuk mencelakai Rasulullah, Malaikat Jibril memberi petunjuk agar Rasulullah tidak tidur di tempat tidurnya malam itu. Dalam hal ini, Rasulullah meminta Ali untuk tidur di tempat tidurnya dan melakukan penyamaran sebagai Nabi. Sementara itu, Rasulullah meninggalkan rumahnya dan bermigrasi ke Madinah.

4. Sistem Hukum yang Diperbaharui

Pada pemerintahan Ali saat menjadi pemimpin, bisa dibilang tidak banyak penaklukan baru yang terjadi. Namun, adanya pencapaian besar pada sektor hukum seperti kepolisian memberikan kesempatan untuk membangun pengadilan dan penjara. Selain itu, Ali juga berperan dalam hal pemindahan ibukota Khilafah dari Madinah ke Kufah di Irak dengan posisi yang strategis.

5. Mendapatkan Kepercayaan Rasulullah untuk Menjaga Putrinya

Kedekatan Ali semakin erat saat dirinya menikahi putri Rasulullah yang paling dicintai atau paling bungsu yaitu Fatimah. Pernikahan tersebut diberkati di Madinah setelah Perang Uhud saat Fatimah beranjak usia lima belas tahun. Dengan demikian, sahabat nabi ini mendapat kehormatan lain selain menjadi khulafaur rasyidin yaitu menjadi ayah dari keturunan Nabi Muhammad SAW.

6. Menjadi Khalifah Keempat atau Yang Paling Akhir

Setelah Khalifah ketiga Utsman bin Affan RA meninggal dunia, kisah Ali bin Abi Thalib berlanjut karena diminta untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Namun Ali pernah menolak tanggung jawab tersebut dan memberikan saran agar menjadikan dirinya sebagai penasihat. Meskipun begitu, ia akhirnya menjadi pemimpin dan melakukan tugasnya sebagai khulafaur rasyidin.

Itulah beberapa informasi mengenai Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin umat Islam yang terakhir setelah Rasulullah wafat. Perjalanan hidupnya memang dipenuhi lika liku, termasuk pada saat ia mulai mengambil alih kepemimpinan. Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai perjuangan Islam, jangan lupa intip juga kisah 10 sahabat nabi yang dijamin masuk surga.